Kamis, 16 April 2015

Identifikasi Isu-Isu Perkembangan Kelapa Sawit

IDENTIFIKASI ISU-ISU(MASALAH) PERKEMBANGAN KELAPA SAWIT







                                  DISUSUN OLEH: 
                                   kelompok 1         : Ama viska
                                                                   Fariz Jasa Putra
                                                                   Almahdian

 
JURUSAN PERTANIAN PRODI PENGELOLAAN PERKEBUNAN POLITEKNIK INDONESIA-VENEZUELA ACEH BESAR 2015




KATA PENGANTAR
            Puji syukur Penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat serta hidayahNYA, sehingga penulis bisa menyelesaikan tugas makalah Identifikasi Isu-Isu (masalah) tentang Perkembangan Kelapa Sawit, meskipun masih ada kekurangannya.
   .Tanpa ilmu yang telah Bapak berikan penulis tidak dapat mengerjakan makalah ini. Tidak lupa pula ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan baik materi maupun immateri dalam penulisan makalah ini.
Penulis telah berusaha semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, apabila terdapat beberapa hal yang kurang berkenan Penulis mohon maaf. Penulis mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaan makalah ini

              
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR                                                                              i
DAFTAR ISI                                                                                             ii
BAB I.PENDAHULUAN............................................................1
          1.1.Latar Belakang.........................................................1
          1.2.Maksud dan Tujuan..................................................2
BAB II.TEKNOLOGI..................................................................3
          2.1.Adanya sebuah GAP produktifitas & produk hilir....3
BAB III.SOSIAL.........................................................................4
          3.1.Status dan Hak guna lahan.......................................4
BAB IV.EKONOMI....................................................................5
          4.1.Akses petani dan motif ekonomi..............................5
BAB V.TATA KELOLA................................................................6
          5.1.Politisasi Perizinan....................................................6
          5.2.Informasi Lahan Yang Tidak Transparan...................7
BAB VI.LINGKUNGAN..............................................................8
          6.1.Ahli Fungsi Hutan Gambut........................................8
          6.2.Distorsi Tata Ruang...................................................9
BAB VII.PENUTUP..................................................................10
DAFTAR PUSTAKA.................................................................11
         




ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1         Latar Belakang
       Kelapa sawit merupakan salah satu tanaman perkebunan yang mempunyaiperan penting bagi subsektor perkebunan. Pengembangan kelapa sawit antara lainmemberi manfaat dalam: peningkatan pendapatan petani dan masyarakat (petanikelapa sawit dapat memiliki pendapatan sekitar Rp. 2 juta – Rp. 6 juta per tahun). Melalui berbagai upaya pengembangan, baik yang dilakukan oleh perkebunanbesar, proyek-proyek pembangunan maupun swadaya masyarakat, perkebunankelapa sawit telah berkembang sangat pesat.
Pada tahun 1968, luas areal yangbaru 120 ribu ha menjadi 4926 ribu ha pada tahun 2003. Peningkatan perkembangan industri perkebunan kelapa sawit ini juga menggiring peningkatan dan perluasan lahan perkebunan baik sekala besar yang dikelola oleh negara maupun yang dikelolah oleh pihak swasta. Selain itu peningkatan dan perluasan lahan juga terjadi ditingkatan masyarakat atau petani kelapa sawit yang juga memperluas lahan perkebunannya masing-masing

Hal ini terlihat dari ekspansi-ekspansi sekala kecil yang dilakukan oleh masyarakat disekitar perkebunan namun bersifat terus-menerus. Sehingga dapat dikatakan masyarakat atau petani kelapa sawit mandiri itak lagi memiliki lahan yang sedikit, namun sudah luas seperti perkebunan skala besar bila diakumulasikan.



1
1.2 Maksud dan Tujuan
        Pengembangan kelapa sawit antara lainmemberi manfaat dalam: peningkatan pendapatan petani dan masyarakat (petanikelapa sawit dapat memiliki pendapatan sekitar Rp. 2 juta – Rp. 6 juta per tahun). Melalui berbagai upaya pengembangan, baik yang dilakukan oleh perkebunanbesar, proyek-proyek pembangunan maupun swadaya masyarakat, perkebunankelapa sawit telah berkembang sangat pesat. Pada tahun 1968, luas areal yangbaru 120 ribu ha menjadi 4926 ribu ha pada tahun 2003.Agar dapat mengatasi masalah pembangunan kelapa sawit yang telah melanda di Indonesia.














2
BAB II
TEKNOLOGI
2.1 Adanya sebuah GAP produktivitas & produk hilir
           
           Semakin pesatnya perkembangan industri perkebunan kelapa sawit di Indonesia tentu memberi dampak yang signifikan bagi peningkatan devisa negara. Peningkatan devisa negara ini hadir melalui besarnya produksi dan produktifitas CPO yang diekspor kenegara-negara berkembang baik itu di Eropa maupun di Amerika. Dalam hal praktek GAP ini terdapat beberapa standar baku terkait dengan informasi seperti pembukaan lahan tanpa bakar, penggunaan pupuk kimia yang tepat dosis dan tepat waktu atau yang tidak berlebihan serta mencari alternatif penggunaan pupuk kompos sebagai alternatif lain, tidak membuka pada kawasan hutan dan hilangnya biodiversity, melakukan budidaya secara benar dan sesuai standar, menggunakan bibit yang memenuhi standar dalam perkebunan, konservasi tanah perkebunan dengan tehnik Penanaman LCC - Land CoverCrop.
         Pengembangan kelapa sawit antara lainmemberi manfaat dalam: peningkatan pendapatan petani dan masyarakat (petanikelapa sawit dapat memiliki pendapatan sekitar Rp. 2 juta – Rp. 6 juta per tahun). Melalui berbagai upaya pengembangan, baik yang dilakukan oleh perkebunanbesar, proyek-proyek pembangunan maupun swadaya masyarakat, perkebunankelapa sawit telah berkembang sangat pesat. Pada tahun 1968, luas areal yangbaru 120 ribu ha menjadi 4926 ribu ha pada tahun 2003.



3
BAB III
SOSIAL
3.1 Status dan hak guna lahan
      Masalah yang ada dari aspek sosial budaya adalah besarnya laju deforstasi hutan di Indonesia yang sebagian besar akibat ekspansi perkebunan kelapa sawit; maraknya benih kelapa sawit palsu; pengubahan lahan gambut menjadi lahan kelapa sawit yang memberikan kontribusi kepada emisi yang sangat luas dari gas rumah kaca dan memberikan kontribusi kepada masalah mutu udara musiman; rusaknya keanekaragaman hayati, praktik korupsi dalam perizinan; serta tidak harmonis dan tidak sinkronnya hukum dan kebijakan yang ada.

       Untuk mengatai hal ini, perlu ada reformasi kebijakan terutama dengan evaluasi prosedur perizinan yang ada, kewajiban adanya legal audit dan audit lingkungan, serta penegakan hukum.

       Selain itu, perlu pendeketan kepada negara industri untuk mendukung pencapaian komitmen pengurangan emisi mereka dengan memperoleh ‘kredit karbon’ (Certified Emissions Reductions atau CER) melalui bantuan untuk negara berkembang dalam mencapai pembangunan berkelanjutan; mendukung program REDD+; penerapan Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL) dan prinsip-prinsip organisasi kelapa sawit berkelanjutan (Roundtable of Sustainable Palm Oil- RSPO) secara ketat; serta peningkatan koordinasi di antara stake holder terkait.





4
BAB IV
EKONOMI
4.1 Akses petani dan motif ekonomi (kebutuhan akan minyak nabati dan berapa ton yang disumbangkan kelapa sawit)
      Dari aspek ekonomi, beberapa masalah yang patut menjadi perhatian adalah kebijakan pemerintah berupa penetapan bea keluar CPO secara progresif; penguasaan lahan sawit oleh pihak asing; penurunan harga kelapa sawit dan kenaikan biaya produksi; dan kesenjangan pendapatan antara petani kecil dengan perkebunan kelapa sawit. Untuk mengatasi permasalahan ini, maka pemerintah harus mengubah segala kebijakan yang tidak mendukung ekspor kelapa sawit Indonesia. Khusus untuk industri yang terletak di ZEK (Zona Eksklusif Kekuasaan) dapat difasilitasi dengan insentif KEK Kawasan Eksklusif Kekuasaan) berupa: insentif pajak pendapatan dan pajak penghasilan untuk pengiriman barang di ZEK; pajak lahan untuk periode tertentu dan fasilitasi prosedur pembebasan lahan; tambahan pembebasan pajak pertambahan nilai, cukai, dan barang mewah; pengurangan tarif; insentif pajak lokal dan fasilitasi izin akuisisi. Pemerintah juga perlu mengubah iklim investasi agar tidak merugikan kepentingan nasional.
      Dalam upaya revitalisasi perkebunan, pemerintah perlu menyediakan kemudahan pada hal-hal yang berkaitan dengan: (1) investasi dan pembiayaan, seperti penyediaan kredit investasi dan subsidi bunga oleh pemerintah untuk peremajaan, rehabilitasi. Indonesia merupakan produsen terbesar minyak sawit, melebihi Malaysia. Pada tahun 2006, memproduksi lebih dari 20,9 juta ton. Indonesia mengharapkan dapat menggandakan produksinya pada akhir 2030. Pada akhir 2010, 60 persen dari output diekspor dalam bentuk Crude Palm Oil.                                                  5
BAB V
TATA KELOLA
5.1Politisasi Perizinan
      Pada saat ini perizinan untuk membangun lahan-lahan perkebunan kelapa sawit, pemerintah lebih mementingkan perhatian nya kepada petani yang memiliki keuangan lebih dari pada yang rendah. Terkadang petani kelapa sawit di pedalaman harus membangun lahan nya secara diam2 tanpa mengetahui pemerintah agar dapat melanjutkan kehidupan nya di kedepan
Konflik tanah merupakan masalah utama di sektor minyak kelapa sawit. Di Indonesia, Sawit Watch sudah mendokumentasikan lebih dari 500 sengketa tanah sedangkan WALHI mencatat 200 kasus konflik di Kalimantan Barat. Untuk mengatasi hal ini maka perlu pendekatan persuasif kepada pemilik lahan, pengakuan hak adat yang dilindungi oleh Undang-undang Dasar, pembenahan sistem perizinan lahan, penegakan hukum, serta pelaksanaan corporate social responsibilities kepada masyarakat. Perlu dipahami bahwa akar konflik seringkali karena faktor kesejahteraan masyarakat.







6
5.2 Informasi lahan yang tidak transparan
      Pada hal ini penyampaian informasi pada lahan perkebunan kelapa sawit tidak merata karena pengendalian pemerintah dan pihak-pihak dalam yang kurang disiplin. Saat ini para petani kelapa sawit hanya mengandalkan lahan yang ada agar tercukupi kebutuhan nya dimasa yang akan datang.
      Pengembangan tanaman kelapa sawit telah dilakukan secara luas diIndonesia baik di kawasan barat maupun di kawasan timur Indonesia.Potensi lahan yang tersedia untuk pengembangan kelapa sawitumumnya cukup bervariasi, yaitu lahan berpotensi tinggi, lahanberpotensi sedang, dan lahan yang berpotensi rendah (Lampiran 14).Lahan berpotensi tinggi adalah lahan yang memiliki Kelas KesesuaianLahan (KKL) untuk kelapa sawit tergolong sesuai (>75%) dan sesuaibersyarat (<25%). Lahan berpotensi sedang memiliki KKL tergolongsesuai (25-50%) dan sesuai bersyarat (50-75%), sementara lahanberpotensi rendah memiliki KKL tergolong sesuai bersyarat (50-75%)dan tidak sesuai (25-50%). Penyebaran areal yang berpotensi.







7
BAB VI
LINGKUNGAN
6.1 Ahli fungsi hutan gambut
      Hutan gambut merupakan hutan yang dapat ditanamin kelapa sawit, dari hutan ini pemerintah juga banyak memegang tangan untuk menangani nya, dari sini ahli fungsi hutan gambut mulai merajalela, huta gambut ini memiliki gambut yang berkualitas bagi pertumbuhan kelapa sawit itu sendiri. Pemerintah juga mempunyai kekuasan memegang kendali hutan gambut, sedangkan yang kena hasil dari mareka ialah para petani kelapa sawit karena ahli fungsi yang terus dijalankan. Lahan gambut (Peat Land) global termasuk lahan gambut yangada di Indonesia telah menjadi isu global. Lahan gambut selain
menyimpan stok karbon terbesar juga menghasilkan emisi GHG.
Kontribusi lahan gambut global dalam total emisi GHG global
tergabung dalam kontribusi pertanian dan land use change
sebagaimana diuraikan sebelumnya (masih jauh lebih kecil dari
emisi GHG konsumsi BBF).








8
6.2 Distorsi Tata ruang
      Peyimpangan tata ruang untuk perkebunan kelapa sawit juga menjadi masalah karena adanya tangan-tangan yang tidak beretika yang mengelola, akibat hal itu pemerintah lebih mengetatkan pembangunan tata ruang untuk perkebunan kelapa sawit. Pada saat ini areal berpotensi tinggi sudah terbatas ketersediaannya,dan areal yang masih cukup tersedia dan berpeluang untukdikembangkan adalah yang berpotensi sedang – rendah. 
      Melalui berbagai upaya pengembangan, baik yang dilakukan oleh perkebunanbesar, proyek-proyek pembangunan maupun swadaya masyarakat, perkebunankelapa sawit telah berkembang sangat pesat. Pada tahun 1968, luas areal yangbaru 120 ribu ha menjadi 4926 ribu ha pada tahun 2003.












9
BAB VII
PENUTUP
Kesimpulan
     Kelapa sawit merupakan salah satu tanaman perkebunan yang mempunyaiperan penting bagi subsektor perkebunan.dan semestinya harus di jaga bersama. Perkebunan kelapa sawit banyak menghasilkan hasil-hasil yang sangat berguna dan berharga.

Saran
Pemerintah harus lebih memerhatikan rakyat dan mensejahterakan apa yang layak didapatkan oleh rakyat. Jagalah produktifitas hasil negara sendiri.












10
DAFTAR PUSTAKA
Sastrosayono, S., 2003. Budidaya Kelapa Sawit. Agromedia Pustaka, Jakarta.
Setyamidjaja, D. 2006. Budidaya Kelapa Sawit. Kanisius. Yogyakarta. 62 Hal.
Sunarko,  2008.  Petunjuk  Praktis  Budidaya  dan  Pengolahan  Kelapa  Sawit. Agromedia Pustaka, Jakarta.
Setyamidjaja dan Djoehana. 1991. Budidaya Kelapa sawit. Kanisius. Yogyakarta
Pahan, I. 2006. Panduan Lengkap Kelapa Sawit. Penebar Swadaya. Jakarta. 410hal.
Perangin-angin, S.A. 2006. Pengendalian Gulma di Kebun Kelapa Sawit (Elaeis
guinensis Jacq.) Kawan Batu Estate, PT. Teguh Sempurna, Minamas  Plantation, Kalimantan Tengah.
Zaman, F.F.S.B. 2006. Manajemen Pengendalian Hama dan penyakit pada Tanaman Belum Mengahasilkan di Perkebunan Kelapa Sawit (Elaeis guinensis Jacq.) PT.










11