IDENTIFIKASI ISU-ISU(MASALAH)
PERKEMBANGAN KELAPA SAWIT

DISUSUN
OLEH:
kelompok
1 : Ama viska
Fariz Jasa Putra
Almahdian
Fariz Jasa Putra
Almahdian
JURUSAN PERTANIAN PRODI PENGELOLAAN
PERKEBUNAN POLITEKNIK INDONESIA-VENEZUELA ACEH BESAR 2015
KATA PENGANTAR
Puji
syukur Penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat serta
hidayahNYA, sehingga penulis bisa menyelesaikan tugas makalah Identifikasi
Isu-Isu (masalah) tentang Perkembangan Kelapa Sawit,
meskipun masih ada kekurangannya.
.Tanpa ilmu yang telah
Bapak berikan penulis tidak dapat mengerjakan makalah ini. Tidak lupa pula
ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada semua pihak yang telah memberikan
bantuan baik materi maupun immateri dalam penulisan makalah ini.
Penulis telah
berusaha semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, apabila
terdapat beberapa hal yang kurang berkenan Penulis mohon maaf. Penulis
mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaan makalah ini
i
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I.PENDAHULUAN............................................................1
1.1.Latar Belakang.........................................................1
1.2.Maksud dan Tujuan..................................................2
BAB II.TEKNOLOGI..................................................................3
2.1.Adanya sebuah GAP produktifitas & produk hilir....3
BAB III.SOSIAL.........................................................................4
3.1.Status dan Hak guna lahan.......................................4
BAB IV.EKONOMI....................................................................5
4.1.Akses petani dan motif ekonomi..............................5
BAB V.TATA KELOLA................................................................6
5.1.Politisasi Perizinan....................................................6
5.2.Informasi Lahan Yang Tidak Transparan...................7
BAB VI.LINGKUNGAN..............................................................8
6.1.Ahli Fungsi Hutan Gambut........................................8
6.2.Distorsi Tata Ruang...................................................9
BAB VII.PENUTUP..................................................................10
DAFTAR PUSTAKA.................................................................11
DAFTAR ISI ii
BAB I.PENDAHULUAN............................................................1
1.1.Latar Belakang.........................................................1
1.2.Maksud dan Tujuan..................................................2
BAB II.TEKNOLOGI..................................................................3
2.1.Adanya sebuah GAP produktifitas & produk hilir....3
BAB III.SOSIAL.........................................................................4
3.1.Status dan Hak guna lahan.......................................4
BAB IV.EKONOMI....................................................................5
4.1.Akses petani dan motif ekonomi..............................5
BAB V.TATA KELOLA................................................................6
5.1.Politisasi Perizinan....................................................6
5.2.Informasi Lahan Yang Tidak Transparan...................7
BAB VI.LINGKUNGAN..............................................................8
6.1.Ahli Fungsi Hutan Gambut........................................8
6.2.Distorsi Tata Ruang...................................................9
BAB VII.PENUTUP..................................................................10
DAFTAR PUSTAKA.................................................................11
ii
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Kelapa sawit merupakan salah satu
tanaman perkebunan yang mempunyaiperan penting bagi subsektor perkebunan. Pengembangan
kelapa sawit antara lainmemberi manfaat dalam: peningkatan pendapatan petani
dan masyarakat (petanikelapa sawit dapat memiliki pendapatan sekitar Rp. 2 juta
– Rp. 6 juta per tahun). Melalui berbagai upaya pengembangan, baik yang
dilakukan oleh perkebunanbesar, proyek-proyek pembangunan maupun swadaya
masyarakat, perkebunankelapa sawit telah berkembang sangat pesat.
Pada
tahun 1968, luas areal yangbaru 120 ribu ha menjadi 4926 ribu ha pada tahun
2003. Peningkatan perkembangan industri perkebunan kelapa
sawit ini juga menggiring peningkatan dan perluasan lahan perkebunan baik
sekala besar yang dikelola oleh negara maupun yang dikelolah oleh pihak swasta.
Selain itu peningkatan dan perluasan lahan juga terjadi ditingkatan masyarakat
atau petani kelapa sawit yang juga memperluas lahan perkebunannya masing-masing
Hal ini terlihat dari ekspansi-ekspansi sekala kecil yang dilakukan oleh
masyarakat disekitar perkebunan namun bersifat terus-menerus. Sehingga dapat
dikatakan masyarakat atau petani kelapa sawit mandiri itak lagi memiliki lahan
yang sedikit, namun sudah luas seperti perkebunan skala besar bila
diakumulasikan.
1
1.2 Maksud dan Tujuan
Pengembangan kelapa sawit antara
lainmemberi manfaat dalam: peningkatan pendapatan petani dan masyarakat
(petanikelapa sawit dapat memiliki pendapatan sekitar Rp. 2 juta – Rp. 6 juta
per tahun). Melalui berbagai upaya pengembangan, baik yang dilakukan oleh
perkebunanbesar, proyek-proyek pembangunan maupun swadaya masyarakat, perkebunankelapa
sawit telah berkembang sangat pesat. Pada tahun 1968, luas areal yangbaru 120
ribu ha menjadi 4926 ribu ha pada tahun 2003.Agar dapat mengatasi masalah
pembangunan kelapa sawit yang telah melanda di Indonesia.
2
BAB II
TEKNOLOGI
TEKNOLOGI
2.1 Adanya
sebuah GAP produktivitas & produk hilir
Semakin pesatnya perkembangan
industri perkebunan kelapa sawit di Indonesia tentu memberi dampak yang
signifikan bagi peningkatan devisa negara. Peningkatan devisa negara ini hadir
melalui besarnya produksi dan produktifitas CPO yang diekspor kenegara-negara
berkembang baik itu di Eropa maupun di Amerika. Dalam hal praktek GAP ini
terdapat beberapa standar baku terkait dengan informasi seperti pembukaan lahan
tanpa bakar, penggunaan pupuk kimia yang tepat dosis dan tepat waktu atau yang
tidak berlebihan serta mencari alternatif penggunaan pupuk kompos sebagai
alternatif lain, tidak membuka pada kawasan hutan dan hilangnya biodiversity,
melakukan budidaya secara benar dan sesuai standar, menggunakan bibit yang
memenuhi standar dalam perkebunan, konservasi tanah perkebunan dengan tehnik
Penanaman LCC - Land CoverCrop.Pengembangan kelapa sawit antara lainmemberi manfaat dalam: peningkatan pendapatan petani dan masyarakat (petanikelapa sawit dapat memiliki pendapatan sekitar Rp. 2 juta – Rp. 6 juta per tahun). Melalui berbagai upaya pengembangan, baik yang dilakukan oleh perkebunanbesar, proyek-proyek pembangunan maupun swadaya masyarakat, perkebunankelapa sawit telah berkembang sangat pesat. Pada tahun 1968, luas areal yangbaru 120 ribu ha menjadi 4926 ribu ha pada tahun 2003.
3
BAB III
SOSIAL
SOSIAL
3.1 Status dan hak guna lahan
Masalah yang ada dari
aspek sosial budaya adalah besarnya laju deforstasi hutan di Indonesia yang
sebagian besar akibat ekspansi perkebunan kelapa sawit; maraknya benih kelapa
sawit palsu; pengubahan lahan gambut menjadi lahan kelapa sawit yang memberikan
kontribusi kepada emisi yang sangat luas dari gas rumah kaca dan memberikan
kontribusi kepada masalah mutu udara musiman; rusaknya keanekaragaman hayati,
praktik korupsi dalam perizinan; serta tidak harmonis dan tidak sinkronnya
hukum dan kebijakan yang ada.
Untuk mengatai hal
ini, perlu ada reformasi kebijakan terutama dengan evaluasi prosedur perizinan
yang ada, kewajiban adanya legal audit dan audit lingkungan, serta penegakan
hukum.
Selain itu, perlu
pendeketan kepada negara industri untuk mendukung pencapaian komitmen
pengurangan emisi mereka dengan memperoleh ‘kredit karbon’ (Certified Emissions Reductions atau CER) melalui bantuan untuk
negara berkembang dalam mencapai pembangunan berkelanjutan; mendukung program REDD+; penerapan Analisis Dampak
Lingkungan (AMDAL) dan prinsip-prinsip organisasi kelapa sawit berkelanjutan
(Roundtable of Sustainable Palm Oil- RSPO) secara ketat; serta peningkatan
koordinasi di antara stake holder terkait.

4
BAB IV
EKONOMI
EKONOMI
4.1 Akses
petani dan motif ekonomi (kebutuhan akan minyak nabati dan berapa ton yang
disumbangkan kelapa sawit)
Dari aspek ekonomi,
beberapa masalah yang patut menjadi perhatian adalah kebijakan pemerintah
berupa penetapan bea keluar CPO secara progresif; penguasaan lahan sawit oleh
pihak asing; penurunan harga kelapa sawit dan kenaikan biaya produksi; dan
kesenjangan pendapatan antara petani kecil dengan perkebunan kelapa sawit.
Untuk mengatasi permasalahan ini, maka pemerintah harus mengubah segala
kebijakan yang tidak mendukung ekspor kelapa sawit Indonesia. Khusus untuk
industri yang terletak di ZEK (Zona Eksklusif Kekuasaan) dapat difasilitasi
dengan insentif KEK Kawasan Eksklusif Kekuasaan) berupa: insentif pajak
pendapatan dan pajak penghasilan untuk pengiriman barang di ZEK; pajak lahan
untuk periode tertentu dan fasilitasi prosedur pembebasan lahan; tambahan
pembebasan pajak pertambahan nilai, cukai, dan barang mewah; pengurangan tarif;
insentif pajak lokal dan fasilitasi izin akuisisi. Pemerintah juga perlu
mengubah iklim investasi agar tidak merugikan kepentingan nasional.
Dalam upaya revitalisasi
perkebunan, pemerintah perlu menyediakan kemudahan pada hal-hal yang berkaitan
dengan: (1) investasi dan pembiayaan, seperti penyediaan kredit investasi dan
subsidi bunga oleh pemerintah untuk peremajaan, rehabilitasi. Indonesia
merupakan produsen terbesar minyak sawit, melebihi Malaysia. Pada tahun 2006,
memproduksi lebih dari 20,9 juta ton. Indonesia mengharapkan dapat menggandakan
produksinya pada akhir 2030. Pada akhir 2010, 60 persen dari output diekspor
dalam bentuk Crude Palm Oil. 5
BAB V
TATA KELOLA
TATA KELOLA
5.1Politisasi
Perizinan
Pada saat ini perizinan
untuk membangun lahan-lahan perkebunan kelapa sawit, pemerintah lebih
mementingkan perhatian nya kepada petani yang memiliki keuangan lebih dari pada
yang rendah. Terkadang petani kelapa sawit di pedalaman harus membangun lahan
nya secara diam2 tanpa mengetahui pemerintah agar dapat melanjutkan kehidupan
nya di kedepan
Konflik tanah merupakan masalah utama di sektor minyak
kelapa sawit. Di Indonesia, Sawit
Watch sudah
mendokumentasikan lebih dari 500 sengketa tanah sedangkan WALHI mencatat 200
kasus konflik di Kalimantan Barat. Untuk mengatasi hal ini maka perlu
pendekatan persuasif kepada pemilik lahan, pengakuan hak adat yang dilindungi
oleh Undang-undang Dasar, pembenahan sistem perizinan lahan, penegakan hukum,
serta pelaksanaan corporate
social responsibilities kepada
masyarakat. Perlu dipahami bahwa akar konflik seringkali karena faktor
kesejahteraan masyarakat.

6
5.2
Informasi lahan yang tidak transparan
Pada
hal ini penyampaian informasi pada lahan perkebunan kelapa sawit tidak merata
karena pengendalian pemerintah dan pihak-pihak dalam yang kurang disiplin. Saat
ini para petani kelapa sawit hanya mengandalkan lahan yang ada agar tercukupi
kebutuhan nya dimasa yang akan datang.
Pengembangan tanaman
kelapa sawit telah dilakukan secara luas diIndonesia baik di kawasan barat
maupun di kawasan timur Indonesia.Potensi lahan yang tersedia untuk
pengembangan kelapa sawitumumnya cukup bervariasi, yaitu lahan berpotensi tinggi,
lahanberpotensi sedang, dan lahan yang berpotensi rendah (Lampiran 14).Lahan
berpotensi tinggi adalah lahan yang memiliki Kelas KesesuaianLahan (KKL) untuk
kelapa sawit tergolong sesuai (>75%) dan sesuaibersyarat (<25%). Lahan
berpotensi sedang memiliki KKL tergolongsesuai (25-50%) dan sesuai bersyarat
(50-75%), sementara lahanberpotensi rendah memiliki KKL tergolong sesuai
bersyarat (50-75%)dan tidak sesuai (25-50%). Penyebaran areal yang berpotensi.

7
BAB VI
LINGKUNGAN
LINGKUNGAN
6.1 Ahli fungsi
hutan gambut
Hutan gambut merupakan hutan yang dapat
ditanamin kelapa sawit, dari hutan ini pemerintah juga banyak memegang tangan
untuk menangani nya, dari sini ahli fungsi hutan gambut mulai merajalela, huta
gambut ini memiliki gambut yang berkualitas bagi pertumbuhan kelapa sawit itu
sendiri. Pemerintah juga mempunyai kekuasan memegang kendali hutan gambut,
sedangkan yang kena hasil dari mareka ialah para petani kelapa sawit karena
ahli fungsi yang terus dijalankan. Lahan gambut (Peat Land) global termasuk lahan gambut yangada
di Indonesia telah menjadi isu global. Lahan gambut selain
menyimpan stok karbon terbesar juga menghasilkan emisi GHG.
Kontribusi lahan gambut global dalam total emisi GHG global
tergabung dalam kontribusi pertanian dan land use change
sebagaimana diuraikan sebelumnya (masih jauh lebih kecil dari
emisi GHG konsumsi BBF).

8
6.2 Distorsi
Tata ruang
Peyimpangan tata ruang untuk perkebunan
kelapa sawit juga menjadi masalah karena adanya tangan-tangan yang tidak
beretika yang mengelola, akibat hal itu pemerintah lebih mengetatkan
pembangunan tata ruang untuk perkebunan kelapa sawit. Pada saat ini areal
berpotensi tinggi sudah terbatas ketersediaannya,dan areal yang masih cukup
tersedia dan berpeluang untukdikembangkan adalah yang berpotensi sedang – rendah.
Melalui berbagai upaya pengembangan, baik
yang dilakukan oleh perkebunanbesar, proyek-proyek pembangunan maupun swadaya
masyarakat, perkebunankelapa sawit telah berkembang sangat pesat. Pada tahun 1968,
luas areal yangbaru 120 ribu ha menjadi 4926 ribu ha pada tahun 2003.
9
BAB VII
PENUTUP
PENUTUP
Kesimpulan
Kelapa sawit merupakan salah satu tanaman perkebunan yang mempunyaiperan penting bagi subsektor perkebunan.dan semestinya harus di jaga bersama. Perkebunan kelapa sawit banyak menghasilkan hasil-hasil yang sangat berguna dan berharga.
Saran
Pemerintah harus lebih memerhatikan rakyat dan mensejahterakan apa yang layak didapatkan oleh rakyat. Jagalah produktifitas hasil negara sendiri.
Kelapa sawit merupakan salah satu tanaman perkebunan yang mempunyaiperan penting bagi subsektor perkebunan.dan semestinya harus di jaga bersama. Perkebunan kelapa sawit banyak menghasilkan hasil-hasil yang sangat berguna dan berharga.
Saran
Pemerintah harus lebih memerhatikan rakyat dan mensejahterakan apa yang layak didapatkan oleh rakyat. Jagalah produktifitas hasil negara sendiri.
10
DAFTAR PUSTAKA
Sastrosayono, S., 2003. Budidaya Kelapa Sawit. Agromedia
Pustaka, Jakarta.
Setyamidjaja, D. 2006. Budidaya Kelapa Sawit. Kanisius. Yogyakarta. 62 Hal.
Sunarko, 2008. Petunjuk Praktis Budidaya dan Pengolahan Kelapa Sawit. Agromedia Pustaka, Jakarta.
Setyamidjaja dan Djoehana. 1991. Budidaya Kelapa sawit. Kanisius. Yogyakarta
Pahan, I. 2006. Panduan Lengkap Kelapa Sawit. Penebar Swadaya. Jakarta. 410hal.
Perangin-angin, S.A. 2006. Pengendalian Gulma di Kebun Kelapa Sawit (Elaeis
guinensis Jacq.) Kawan Batu Estate, PT. Teguh Sempurna, Minamas Plantation, Kalimantan Tengah.
Zaman, F.F.S.B. 2006. Manajemen Pengendalian Hama dan penyakit pada Tanaman Belum Mengahasilkan di Perkebunan Kelapa Sawit (Elaeis guinensis Jacq.) PT.
Setyamidjaja, D. 2006. Budidaya Kelapa Sawit. Kanisius. Yogyakarta. 62 Hal.
Sunarko, 2008. Petunjuk Praktis Budidaya dan Pengolahan Kelapa Sawit. Agromedia Pustaka, Jakarta.
Setyamidjaja dan Djoehana. 1991. Budidaya Kelapa sawit. Kanisius. Yogyakarta
Pahan, I. 2006. Panduan Lengkap Kelapa Sawit. Penebar Swadaya. Jakarta. 410hal.
Perangin-angin, S.A. 2006. Pengendalian Gulma di Kebun Kelapa Sawit (Elaeis
guinensis Jacq.) Kawan Batu Estate, PT. Teguh Sempurna, Minamas Plantation, Kalimantan Tengah.
Zaman, F.F.S.B. 2006. Manajemen Pengendalian Hama dan penyakit pada Tanaman Belum Mengahasilkan di Perkebunan Kelapa Sawit (Elaeis guinensis Jacq.) PT.
11
